2020 06 06 18.26.27

Didukung Kemenkop dan UKM, PKPS Segera Massif dan Go-Nasional

Solusi dari masalah sampah di Indonesia memasuki babak baru. Yakni dengan makin massifnya pembentukan Primer Koperasi Pengelola Sampah (PKPS) di seluruh kabupaten/kota Indonesia.

Hal itu tampak dari pelaksanaan Webinar “Paradigma Pengelolaan Sampah Melalui Koperasi” yang dilaksanakan pada Kamis, 4 Juni 2020. Dalam webinar tersebut hadir tiga narasumber penting yang memiliki kapasitas dan kualitas berkaitan dengan koperasi dan pengelolaan sampah.

Nasumber pertama adalah Staf Ahli Menteri Koperasi dan UKM RI, Luhur Pradjarto. Narasumber kedua adalah pegiat dan pengamat regulasi pengelolaan sampah, Direktur Green Indonesia Foundation (GiF), Asrul Hoesein yang juga merupakan inisiator PKPS. Narasumber ketiga adalah pengusaha Owner PT Kemasan Ciptatama Sempurna (KCS) yang juga merupakan Pembina PKPS, Wahyudi Sulistya E.A.

Menjadi moderator dalam webinar tersebut adalah Nara Ahirullah. Ketua PKPS Surabaya.

WhatsApp Image 2020 06 06 at 14.47.54

Peserta Webinar 119 Kabupaten/Kota

Webinar diikuti oleh 152 peserta online dari 119 kabupaten/kota Indonesia. Selain live melalui aplikasi online Zoom, webinar tersebut disiarkan langsung melalui Fanpage Facebook PKPS Surabaya (klik untuk siaran ulang webinar lengkap).

Peserta webinar terdiri dari pagiat lingkungan, pengelola sampah, akademisi hingga perusahaan industri produk berkemasan dan daur ulang.

Berdasarkan statistik tercatat 7,9 persen merupakan peserta yang sudah membentuk PKPS di kabupaten/kotanya. Lalu 16,4 persen adalah peserta dari perusahaan industri produk berkemasan dan industri daur ulang. Dan sisanya 75,7 persen adalah peserta yang hendak mendirikan PKPS.

foto berita 1

Dalam materinya, Luhur Pradjarto menyampaikan saat ini pertambahan sampah sangat signifikan mengingat jumlah penduduk yang terus bertambah. “Perlakuan terhadap sampah di masyarakat masih sekadar menumpuk dan membuangnya. Ketika membuangnya, membakar, mengubur atau dibuang ke sungai sama saja dengan memindahkan masalah sampah,” ujarnya.

Luhur melanjutkan, masalah sampah akan selesai jika sampah diolah dengan baik. Yang organik maupun anorganik bernilai ekonomi. “Masalah bukanlah pada sampah itu sendiri, tetapi pada cara kita menangani sampah,” tegasnya.

Dijelaskan, potensi sampah Indonesia 2019 mencapai 67,8 juta ton per tahun atau 175 ribu ton per hari. Di antaranya hanya 7 persen yang didaur ulang, 69 persen masuk TPA dan 24 persen dibuang sembarangan. “Sangat kecil sekali yang dikelola. Padahal kalau kita kelola bisa sangat tinggi nilai ekonominya,” terangnya.

Karena itu, sambungnya, diperlukan perubahan paradigma dalam pengelolaan sampah. Yaitu melalui lembaga koperasi yang secara teknis dan sistemnya dapat dilakukan dengan membentuk PKPS di seluruh kabupaten/kota se Indonesia yang dikelola secara profesional dan modern. (klik untuk siaran ulang webinar lengkap).

Narasumber kedua, Asrul Hoesein menjelaskan ada 15 kementerian dan lembaga dalam Perpres No.97 Tahun 2017 tentang Jakstranas Pengelolaan Sampah. “Mestinya ada 16 kementerian, ditambah Kementerian Pertanian. Karena target pupuk organik bersubsidi 1 juta ton per tahun tidak akan tercapai kalau bahan bakunya bukan sampah rumah tangga dan sejenis rumah tangga,” terangnya.

Selanjutnya Asrul menjelaskan hingga saat ini Indonesia belum memiliki sistem komperhensif dalam pengelolaan sampah yang bisa dijalankan di seluruh Indonesia. Maka itu, PKPS diperjuangkannya sejak 2015 silam hingga akhirnya mendapatkan dukungan dari Kementerian Koperasi dan UKM RI.

“Terima kasih banyak Menteri dan Kementerian Koperasi dan UKM telah berkenan mendukung. Sehingga PKPS bisa menjadi sistem pengelolaan sampah yang dapat dibentuk di seluruh Indonesia,” ungkapnya. (klik untuk siaran ulang webinar lengkap).

Menurut Asrul, PKPS akan mendorong penciptaan lapangan kerja baru dan turut serta dalam menaikkelaskan UMKM berbasis sampah secara massif seluruh Indonesia. Karena PKPS mempunyai target pembangunan instalasi olah sampah domestik dan pertanian di setiap kecamatan seluruh Indonesia.

Narasumber ketiga, Wahyudi Sulistya E.A. mengakui bahwa sistem yang paling mumpuni untuk menghadapi masalah sampah Indonesia adalah koperasi dengan PKPS. “Saya sebagai pengusaha dan pembina PKPS akan mendukung PKPS agar menjadi lembaga bisnis dan perusahaan berbasis lingkungan yang hebat, taat pajak dan menyejahterakan masyarakat,” tegas Wahyudi. (klik untuk siaran ulang webinar lengkap).

Target PKPS: Kejar Keberhasilan Koperasi China, Jepang dan Korsel

Setelah penyampaian materi dan tanya jawab dengan peserta webinar selama 4 jam, tampak semangat peserta dan narasumber untuk menjadikan PKPS sebagai solusi sampah nasional. Melalui polling yang muncul dalam webinar, 100 persen peserta sepakat untuk segera membentuk PKPS di kabupaten/kotanya masing-masing.

foto berita 2

Sebelum ditutup, para narasumber menyampaikan closing statemen-nya. “Semoga nanti bisa kita kristalkan kembali bahasan kita ini. Supaya integrasi koperasi, PKPS dan pengelola sampah bisa sama persepsinya. Sehingga PKPS bisa menjadi suatu perusahaan yang besar,” ujar Luhur Pradjarto.

Selanjutnya Asrul Hoesein menyampaikan harapan dari GiF yaitu, terbangunnya sistem tata kelola sampah yang bijak dan mencerdaskan rakyat maupun industri produsen sampah.

“PKPS semoga dapat menjadi basis circular economy yang dimiliki secara multistakeholder dengan target mengejar keberhasilan koperasi tiga negara di Asia yang terhebat seperti Koperasi Supply and Marketing Cooperative (SMC) China, Koperasi Pertanian Jepang National Federation of Agricultural Cooperative Association (ZEN-NOH) dan minimal seperti Koperasi Tani National Agricultural Cooperative Federation (NACF) Korea Selatan. Dan harapan yang terakhir, semoga PKPS ini dapat mengembalikan roh koperasi Bung Hatta,” paparnya.

Wahyudi Sulistya dalam di akhir webinar menyampaikan hal singkat soal sampah. “Sampah jangan dijadikan masalah. Karena sampah itu berkah.” (kka)

Leave comment

Subscribe to our Newsletter!

Sign up to receive environmental news and updates!

dev